Analisa Politik, Tulisan ini merupakan suatu opini penulis mengenai pandangannya tentang fenomena dan dinamika politik regional, nasional dan internasional.
Analisa Politik
Analisa Politik : G7 Ganjalan Tiongkok?
G7 2021 : Waspadai Dominasi Tiongkok? Sumber : thetimes.co.uk Baru-baru ini, para pemimpin G7 (Group of Seven) mengadakan pertemuan tatap ...
Friday, May 1, 2020
Tuesday, April 7, 2020
Stigmatisasi Buruk Menjadi Penghambat Penanganan Corona?
Stigamatisasi Sosial ditengah Corona
![]() |
| Sumber Foto : Aktualitas.id |
Pandemi Virus Corona (COVID-19) masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, tak pelak isu virus tersebut selalu menjadi tajuk utama di media cetak maupun online, dalam situasi saat ini menimbulkan stigma negatif di kalangan masyarakat sehingga menjadi dampak sosial baru, lantas bagaimanakah peran pemerintah dalam mecegah stigma negatif seputar pandemi tersebut?
Labels:
Corona,
ODP,
PDP,
Sosial,
Stigmatisasi,
Tenaga Medis
Sunday, April 5, 2020
Beda Gelora, Beda PKS
Gelora Ingin Jadi PKS-Nasionalisme
![]() |
| Sumber Foto : findonews |
Partai Gelora mengakui memiliki kesamaan dengan PKS. Sebab, sebagian besar anggota dan pengurus partai Gelora merupakan mantan kader dan pengurus PKS. Namun, tetap ada perbedaan antara PKS dan Gelora, perbedaanya yaitu Gelora adalah PKS yang meng-Indonesia. Benarkah demikian?
Labels:
Anis Matta,
Fahri Hamzah,
Gelora,
Nasionalisme,
PKS
Saturday, April 4, 2020
Corona Merebak, Benarkan Yasonna Take a Chance?
Corona
Merebak, Yasonna Take a Chance
![]() |
| Sumber Foto : Channel9.id |
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H. Laoly merencanakan pembebasan ribuan narapida, termasuk narapidana kasus korupsi untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19), Namun, banyak pihak yang melakukan penolakan atas rencana tersebut. Pasalnya, Yasonna juga melakukan pembebasan untuk narapida korupsi, atas hal itu banyak pihak yang menyangka rencana Yasonna tersebut hanya menjadi akal-akalannya semata untuk melindungi para narapidana korupsi, benarkah demikian?
Friday, April 3, 2020
Ada Gejolak Politik di Balik Corona, Benarkah?
GEJOLAK POLITIK DITENGAH CORONA
![]() |
| Sumber Foto : breakingnews.co.id |
Pemerintah Indonesia dipastikan tidak akan menerapkan lockdown atau karantina wilayah seperti yang dilakukan negara lain dalam menghadapi virus Corona. Namun, keputusan pemerintah pusat tersebut nyatannya bertolak belakang dengan pemerintah daerah. Pasalnya, beberapa daerah di Indonesia ada yang memberlakukan kebijakan lockdown, dengan demikian, di tengah mewabahnya virus Corona yang menyerang Indonesia, sepintas terlihat adanya gejolak politik yang terjadi. Benarkah demikian?
Sunday, March 29, 2020
Pemerintah Gandeng Influencer Lawan Corona
Pemerintah Gandeng Influencer Lawan Corona
![]() |
| Sumber Foto : Mediaindonesia.com |
Pemerintah
bakal mengucurkan dana Rp72 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) 2020 untuk influencer. Dana itu merupakan bagian dari insentif yang diberikan
pemerintah untuk sektor pariwisata demi menangkal dampak 'infeksi' virus corona terhadap ekonomi domestik. Namun, tak sedikit pihak yang
menanyakan motif keputusan tersebut, Pasalnya dana yang diberikan kepada influencer sebagai insentif terbilang besar. Maka, dengan
menggaet influencer, Indonesia mampu
untuk meredam corona, dan berhasil mengembalikan perekonomian Indonesia?
Pada akhir tahun 2019, Tiongkok
mendapatkan sorotan dari berbagai media Internasional mengenai adanya temuan
wabah penyakit baru yang disebut virus corona atau Covid-2019 yang telah
memakan banyak korban hingga ratusan ribu orang.
Virus tersebut diketahui sudah
menyebar ke mancanegara, bahkan hingga ke Eropa. Dalam hal ini tidak terkecuali
Indonesia, Jumlah warga Indonesia yang
terjangkit virus corona saat ini telah berjumlah 19 pasien.
Menurut
Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan corona, Achmad Yurianto menyebut
terdapat 19 warga Indonesia yang sudah terkonfirmasi positif corona. Hal
tersebut membuktikan bahwasannya virus corona telah menyebar ke beberapa
wilayah di Indonesia dan telah memicu hadirnya dampak lain yang dirasakan
pemerintah sendiri.
Di sisi
lain, sepertinya Indonesia justru mendapatkan dampak lain yang timbul dari
virus tersebut, yaitu perekonomian Indonesia yang melemah.
Dampak perekonomian yang dirasakan
Indonesia rupanya mendapatkan banyak perhatian khusus dari Presiden Indonesia
Joko Widodo (Jokowi) dan juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto.
Baru-baru ini, pemerintah rupanya
telah menyiapkan strategi baru untuk meredam corona, Strategi yang digunakan
pemerintah untuk menjulang kembali perekonomian Indonesia akibat dampak corona
yaitu dengan menggaet influencer media
sosial, yang diharap dapat memberikan pengaruh di masyarakat dengan mengucurkan
dana sebesar 72 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.
Strategi pemerintah dalam meredam
dampak corona tersebut, sepertinya menuai banyak kritik dari berbagai kalangan,
salah satunya yaitu Ekonom Senior, Rizal Ramli.
Ia menyebut cara pemerintah dalam
menanggulangi dampak corona terhadap ekonomi Indonesia terbilang keliru, ia
memberikan saran bahwa sebaik-baiknya cara untuk meredam penyebaran corona
adalah dengan melakukan mitigasi yang terukur. Dari pada harus membuang dana
dengan percuma, dan dampak yang diharapkannya pun belum tentu sesuai dengan apa
yang diberikan.
Senada dengan Rizal, Ketua DPP
Partai Demokrat, Jensen Sitindaon menyebut bahwa strategi pemerintah dengan
menggaet influencer hanya sebatas
membuang dana. Pasalnya, apabila negara asal wisatawan asing mengeluarkan warning travel, hal tersebut akan
menjadi percuma.
Hal tersebut, mengisyaratkan bahwa
seharusnya pemerintah dalam merancang strategi dalam meredam dampak corona di bidang ekonomi harus lebih melihat
kondisi suatu negara untuk dapat mendeteksi apakah negara-negara sedang
mengalami warning travel atau tidak.
Melihat lebih dalam konteks yang
terjadi, sepintas terlihat seperti pemerintah terlalu tergesa-gesa dalam
mengambil keputusan dan tidak menghitungkan untung ruginya.
Oleh karena itu, seharusnya
pemerintah lebih berhati-hati dalam menggunakan dana APBN, apalagi dana
tersebut di berikan kepada influencer yang
belum pasti dapat memberikan dampak positif terhadap pemulihan pariwisata
Indonesia, ataukah justru akan memberikan dampak negatif atau stigma buruk masyarakat terhadap pemerintah Indonesia.
Influencer Di Nilai Akan
Menjadi Buzzer
Persoalan
strategi yang dilakukan pemerintah dalam meredam dampak virus corona,
sepertinya akan memberikan efek lebih, pasalnya banyak pihak yang menganggap istilah influencer sebagai hal yang buruk dan dianggap nantinya akan
menjadi buzzer pemerintah dalam berbagai hal yang menyangkut kebijakan publik.
Menurut Center for Inovation Policy
and Governance (CIPG) dalam penelitian Di
Balik Fenomena Buzzer, menyebut buzzer
merupakan salah satu alat yang digunakan oleh perusahaan untuk kepentingan
promosi.
Kendati
sebagai alat promosi, buzzer juga
digunakan sebagai alat politik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas
tokoh atau partai politik tertentu.
Pada gelaran
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012, buzzer
digunakan pasangan Jokowi-Ahok untuk menjadi pendongkrak popularitas
pasangan tersebut dengan cara mengkonsolidasikan dan membentuk jaringan relawan
digital untuk mendorong segala bentuk wacana politik yang ada.
Kemampuan buzzer dalam menjaring kekuatan di media
sosial memiliki potensi yang relatif besar dalam jaringan sosial. Grannovetter
dalam teori jaringan, menyebut jaringan sosial menjelaskan bagaimana satu
individu saling terhubung dengan individu yang lainnya.
Artinya, dengan semua orang dapat terhubung
melalui sebuah jaringan, maka buzzer dapat
secara langsung dapat
mempengaruhi individu lain yang tergabung dengan kemampuan yang dimilikinya.
Secara
teoritis fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori Opinion Leader dan Hierarchy
of Influence, yang menyebut dalam jaringan sosial terdapat individu yang
memiliki kapasitas untuk mempengaruhi individu lain. Dan dalam tatanan tersebut
buzzer dapat dikatakan sebagai
seorang Opinion Leader yang dapat
memberikan pengaruh.
Menurut Analis Media Sosial Drone
Empirit and Karnels Indonesia, Ismail Fahmi menyebut istilah buzzer bukan merupakan hal baru yang
digunakan oleh pemerintah. Ia menyebut pemerintah pernah menggunakan buzzer untuk menjawab kritik masyarakat
terhadap pemerintah.
Dalam konteks pemerintah menggunakan
buzzer, memang bukan suatu hal yang
baru. Pasalnya, pemerintah juga pernah menggunakan buzzer sebagai alat untuk menutupi adanya kritikan dari masyarakat
terhadap pemerintah di media sosial pada tahun 2014. Hal tersebut, seperti menunjukan
bahwa pemerintah sedang memelihara buzzer
untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam pemerintahan.
Dengan demikian, langkah pemerintah
menggaet influencer untuk menutup
gerakan sosial, penggunaannya memang cukup efektif, akan tetapi apabila
dibenturkan dalam hal promosi pariwisata, apakah akan mampu untuk menarik para
wisatawan datang ke Indonesia.
Strategi Pemerintah Keliru
Di tengah usaha pemerintah dalam
meredam dampak corona yang menyerang sektor pariwisata Indonesia, sepertinya
pemerintah harus terus mengkaji perihal influencer
yang dijadikan alat untuk meredam corona.
Kendati, teknologi digital
merupakan fenomena yang mampu mendorong perubahan di semua aspek kehidupan,
akan tetapi kemudahan bukanlah satu-satunya alasan seseorang menggunakan sebuah
jasa atau layanan.
Berangkat dari pemahaman mengenai influencer merupakan buzzer pemerintah yang biasanya
dijadikan alat untuk mengentaskan kritik di kalangan masyarakat. Dapat dipahami
bahwa dalam konteks promosi pariwisata memiliki perbedaan yang mencolok.
Dalam kegiatan promosi pariwisata
perlu disesuaikan dengan berbagagai aspek; psikologi, budaya, ekonomi, media,
teknologi dan kebijakan suatu tempat atau negara. Ditinjau dari beberapa aspek
tersebut, Indonesia nyatanya masih memiliki kelemahan.
Menparekraf, Wishnutama menyebut
terdapat lima kelemahan yang harus dibenahi, yaitu bidang lingkungan yang
berkelanjutan, kesehatan dan kebersihan, infrastruktur pariwisata, kemudian
keamanan.
Dengan demikian, persoalan ini
sebenarnya harus diberi porsi perhatian lebih oleh pemerintah ketika akan
membuat kebijakan baru. Pasalnya lima kelemahan yang dimiliki Indonesia dalam
sektor pariwisata tersebut sangatlah penting, khususnya yang menyangkut
keamanan pariwisata di Indonesia.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
Luhut Binsar Panjaitan, menyebut pentingnya keamanan pariwisata di Indonesia
merupakan salah satu cara meningkatkan jumlah wisatawan yang ada di Indonesia
yang akan datang.
Dengan demikian, penyusunan strategi pemerintah dalam meredam
dampak yang diberikan akibat corona terhadap sektor Pariwisata, seharusnya
lebih memperhatikan dan menyesuaikan dengan kelemahan yang dimiliki Indonesia.
Atas hal ini, pandangan John M. Bryson dalam Intenational
Public Management menyebut dalam merencanakan strategi harus sesuai dengan isu
strategis yang hendaknya dipecahkan terlebih dahulu.
Dalam konteks ini, apabila pemerintah menyadari bahwa masih
tedapat kelemahan yang dimiliki, maka sepatutnya pemerintah lebih memprioritaskan
pada pembenahan pariwisata, dari pada harus membuang anggaran sebesar 72 miliar
untuk memberikan insentif kepada influencer.
Hal tersebut mestinya dijadikan landasan kajian dalam
merumbukkan suatu strategi, apalagi ini merupakan suatu hal yang menyangkut
tentang perekonomian negara.
"Jika Anda Mengetakan apa yang anda pikirkan. Jangan harap cuma mendengar apa yang anda sukai". (Malcom S. Forbes)
Reference :
- https://nasional.kompas.com/read/2020/03/09/18060261/jumlah-bertambah-19-pasien-di-indonesia-positif-virus-corona
- https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200225172035-532-478022/redam-dampak-virus-corona-jokowi-beri-influencer-rp72-m
- https://ekbis.rmol.id/read/2020/02/25/422891/kucurkan-rp-72-miliar-untuk-influencer-redam-dampak-covid-19-rizal-ramli-menko-ekonomi-ngawur
- https://www.wartaekonomi.co.id/read273938/heboh-promo-influencer-rp72-miliar-demokrat-koar-koar
- https://tagar.id/tujuan-jokowi-bayar-influencer-rp-72-miliar
- https://news.detik.com/berita/d-4733188/analis-drone-emprit-sebut-buzzer-buat-pemerintah-tak-bisa-dengarkan-kritik
- https://travel.tempo.co/read/1308943/menaikkan-kunjungan-turis-inbound-ini-strategi-kemenparekraf
- https://republika.co.id/berita/q46vpi370/luhut-tidak-boleh-ada-emfearem-di-wisata-indonesia
INFOGRAFIS
Labels:
Airlangga,
Corona,
Influencer,
Jokowi,
Pemerintah,
Wishnutama
Anies Polemik Pagelaran Formula E
Anies dan Polemik Pagelaran Formula E
“Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan telah melayangkan Surat kepada Menteri Sekertaris Negara, yang juga Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka, tentang penggunaan wilayah Monumen Nasional sebagai tempat pagelaran Formula E atas rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DKI Jakarta. Namun, hal tersebut dibantah oleh Ketua TACB DKI Jakarta Mundardjito yang merasa tidak memberikan rekomendasi itu. Atas kejadian tersebut, Ketua DPRD DKI Jakarta menilai ada manipulasi yang terjadi dan Gubernur DKI Jakarta telah melakukan Pembohongan Publik. Benarkah demikian?”
Sebelum adanya polemik tentang pagelaran Formula E yang akan
diberlangsungkan di Monumen Nasional (Monas), peristiwa revitalisasi Monas
lebih dahulu mencuat kepermukaan publik, pasalnya revitalisasi Monas tersebut
memiliki atensi yang kuat dari publik yang menulai proyek tersebut benar-benar
menjadi sangat rumit. Dan banyak pihak yang menuduh pihak Pemprov DKI Jakarta
yang terlalu pengabaikan lingkungan sekitar Monas. Dan terdapat ancaman yang
dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya DPRD DKI Jakarta terhadap Gubernur DKI
Jakarta.
Ancaman yang dilayangkan DPRD DKI Jakarta kepada Gubernur Jakarta, berupa
ancaman hukum yang akan dijeratkan kepada Gubernur DKI Jakarta, apabila terus
mengabaikan kritiknya dan terus menjalankan proyek revitalisasi Monas tersebut.
Selain DPRD DKI Jakarta, Menteri Sekertaris Negara (Mensesneg) juga menyoroti peristiwa
tersebut, pasalnya Mensesneg memiliki wewenang dalam proses revitalisasi monas,
dan memiliki prosedur perizinan yang harus dilakukan pihak Pemprov DKI Jakarta
kepada Mensesneg.
Setelah panjangnya polemik yang berlangsung dalam peristiwa revitalisasi
Monas, yang berujung pada kembalinya keberlangsungan proyek revitaslisasi
Monas, Polemik barupun muncul kembali di permukaan publik, yaitu mengenai
pegelaran Formula E yang dicanagkan akan berlangsung di Monas. Polemik soal
Monas kembali mencuat setelah Gubernur DKI Jakarta melayangkan surat kepada
Mensesneg yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Komisi Pengarah Pembangunan
Kawasan Medan Merdeka.
Surat Kontroversi Gubernur DKI Jakarta
Baru-baru ini publik dikejutkan dengan pemberitaan Surat Kontroversi yang
dilayangkan Gubernur DKI Jakarta kepada Mensesneg dan Ketua Komisi Pengarah
Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Dalam surat yang bernomor 61/-1.857.23 itu,
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut berbagai pihak yang memberikan
rekomendasi di gelarnya Formula E 2020 di kawasan tersebut.
Anies menegaskan dalam surat tersebut, dalam rangka menjaga fungsi
kelestarian lingkungan dan cagar budaya di kawasan Medan Merdeka dalam
pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperoleh rekomendasi
dari Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta, hal ini menjadi polemik usai
Mundardjito sebagai Ketua TACB DKI Jakarta membantah perihal rekomendasi yang
diberikannya kepada Pemprov DKI Jakarta, ia menegaskan bahwasannya tidak pernah
mengkaji perihal pagelaran Formula E tersebut, dan apalagi menerbitkan
rekomendasi penyelenggaraannya di kawasan Monas yang memiliki notabene sebagai
kawasan cagar budaya.
Disisi lain, Ketua DPRD DKI Jakarta menungkapkan bahwa, sebagai ketua dewan
dari fraksi kami, melihat ada manipulasi lagi, seakan-akan Kepala Cagar Budaya
ini mengiyakan, padahal belum dikonfirmasi oleh pihaknya, setelah ia datang ke
Istana untuk bertemu dan menginformasikan kebenaran surat tersebut. Dan
Sekertaris Mensesneg, Setya Utama membenarkan Surat dari Anies tersebut, dan ia
juga mengaku belum mengetahui bahwa Pemprov DKI Jakarta sebenarnya belum
mendapat rekomendasi dari TACB.
Dan dengan demikian, Ketua DPRD DKI Jakarta, menegaskan bahwa Pemprov DKI
Jakarta harus membatalkan gelaran Formula E 2020 tersebut di Monas, karena
belum mengantongi rekomendasi dari TACB. Dan iapun memberikan rekomendasi
kepada Pemprov DKI Jakarta untuk menggelar Formula E tersebut, dikawasan Ancol,
Jakarta Utara.
Menanggapi persoalan surat kontroversi tersebut, pihak Sekretaris Daerah
(Sekda) DKI Jakarta mengaku bahwa ada kesalahan dalam penulisan surat Anies
kepada Mensesneg mengenai persoalan gelaran Formula E 2020 di monas.
Salah Ketik atau Pembohongan Publik?
Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah memberikan klarifikasinya mengenai
persoalan salah ketik, dan mengakui ada kesalahan dalam penerbitan rekomendasi
yang dilakukan oleh Tim Sidang Pemugran DKI Jakarta, dan bukan TACB. Melihat dari
adanya klarifikasi yang dilakukan oleh pihak Sekda DKI Jakarta, dapat ditinjau
melalui pendekatan teori human eror.
Dalam Love dan Josephson (2004), Hagan dan Mays (1981), mendefinisikan human eror sebagai kegagalan dari
manusia untuk melakukan tugas yang telah di desain dalam batas ketepatan,
rangkaian, atau waktu tertentu. Definisi ini memang sedikit ambigu karena
mungkin tidak dapat menentukan apa yang dimaksud dengan ketepan, dan rangkaian,
dan waktu dari aktifitas yang mungkin saja dapat bervariasi tanpa menyebabkan
kesalahan.
Sedangkan Bea (1994), mendefiniasikan human
eror sebagai keberangkatan dari praktek yang dapat diterima atau diharapkan
dari suatu bagian pada setiap individu yang menghasilkan sesuatu yang tidak
dapat diterima atau diharapkan. Meskipun dapat dibilang definisi ini sangat
singkat, namun sulit untuk menentukan sebuah standart yang dapat diterima dari
suatu praktek, kecuali jika dibuat referensi khusus sebagai dasar yang tersedia
oleh suatu lembaga yang profesional.
Dalam Reason (1990), dengan pengutip Love dan Josephson (2004),
menggambarkan human eror dalam suatu
psikologis sebagai semua kesempatan dimana rangkaian aktivitas mental atau
fisik yang direncanakan tidak berjalan seperti yang diharapkan sebagaimana
seharusnya, sehingga gagal untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Dalam prakteknya yang dilakukan oleh pihak Sekda DKI Jakarta, dengan
melihat pendekatan human eror dalam
suatu psikologi, mungkin secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwasannnya
rencana yang dicanangkan dalam penulisan kata Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta
dalam surat yang menjadi polemik tersebut, tidak berjalan seperti seharusnya,
dan gagal dalam mencapai hasil yang diharapkan.
Alih-alih demikian, dugaan yang dilayangkan oleh Ketua DPRD DKI Jakarta
sepertinya belum menghilang dari permukaan publik, walaupun secara praktek
dalam pembuatan surat tersebut telah diklarifikasi oleh pihak yang
bersangkutan, dugaan Gubernur Jakarta telah melakukan manipulasi dan
pembohongan publik patut kita jelaskan.
Di era Hitler, istilah pembohongan publik memang sangat terkenal sekali,
yaitu dengan sebutan teori propaganda the
big lie, kebohongan yang sangat intens dan masif yang dipublikasikan kepada
publik, dan lambat laut menjadi sebuah kebenaran yang diyakini. Jerman sendiri
sebagai negara kelahiran Hitler telah membuat suatu kebijakan dalam mengamankan
negaranya dari ancaman post-truth akibat
penyebaran kabar burung atau fake news.
David Buller dan Judee Burgoon, mencetuskan suatu teori yang didasari oleh
tradisi sosiopsikologis, bohong merupakan manipulasi dari sebuah informasi.
Teori ini digunakan untuk menjelaskan suatu kebohongan komunikasi seseorang
dengan cara memancing komunikan dengan informasi yang benar sehingga terjadi
terbongkarlah kenyataan bohong tersebut.
Anies menggunakan pendekatan Interpersonal Deception?
Dalam dugaan pembohongan publik yang dilayangkan oleh Ketua DPRD DKI
Jakarta kepada Gubernur DKI Jakarta, mungkin dapat dilihat melalui pendekatan Interpersonal Deception, Interpersonal
Deception merupakan teori yang sangat berguna bagi seseorang yang mencoba
melakukan tipu muslihat, atau berpikir seseorang akan melakukan tipu muslihat
kepada orang lainnya. Teori ini dapat membantu melihat kebelakang, pada situasi
yang telah lalu, guna mengevaluasi peristiwa dan perilaku komunikasi verbal
maupun non-verbal.
Dengan melihat argumentasi Anies, yang enggan menanggapi pembantahan yang
diujarkan kepadanya oleh ketua TACB, Anies Justru memberikan pernyataan lain
dengan memberikan apresiasi kepada Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan
Merdeka yang telah memberikan persetujuan penyelenggaraan ajang Formula E di
Monas. Hal inilah yang membuat sontak publik semakin bertanya-tanya, dan ini
semakin kuat mengindikasikan Anies melakukan kebohongan publik?.
Dalam teori Interpersonal Deception sendiri
menekankan pada pengevaluasian peristiwa dan komunikasi yang sudah lalu,
kemudian dapat berpikir untuk melakukan tipu muslihat lainnya. Dengan melihat
pendekatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Anies telah melakukan
pengevaluasian mengenai polemik yang terjadi sebelumnya, yaitu polemik
revitalisasi Monas, dan ia kemudian berpikir untuk melakukan manipulasi publik
guna melancarkan pagelaran Formula E di Monas.
Dengan kata lain, Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta boleh jadi memang
tidak ingin menanggapi mengenai pembantahan yang dilakukan TACB, karena akan
membuat kegaduhan-kegaduhan lainnya. Yang jelas hanya Anies yang mengetahui
alasan sebenarnya mengenai surat tersebut.
Kendati demikian, tanggapannya mengenai persoalan surat tersebut mungkin
dinanti banyak pihak, dan tanggapannya mungkin dapat memberikan klarifikasi
yang jelas dan tanpa memperkeruh keadaan, sehingga Formula E dapat
berlangsusung dengan baik dan lancar.
"Dunia ialah Panggung Komedi untuk Mereka yang Memikirkannya dan Tragedi untuk Mereka yang Merasakannya". (Harace Walpole)
Subscribe to:
Posts (Atom)







