Gelora Ingin Jadi PKS-Nasionalisme
![]() |
Sumber Foto : findonews |
Partai Gelora mengakui memiliki kesamaan dengan PKS. Sebab, sebagian besar anggota dan pengurus partai Gelora merupakan mantan kader dan pengurus PKS. Namun, tetap ada perbedaan antara PKS dan Gelora, perbedaanya yaitu Gelora adalah PKS yang meng-Indonesia. Benarkah demikian?
Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau yang di sebut Gelora merupakan
partai politik baru besutan mantan politisi Partai Keadilan Sosial (PKS), Anis
Matta dan Fahri Hamzah. Partai Gelora didirikan pada 28 Oktober 2019 dan
dicatatkan di notaris pada 4 November 2019.
Selain Anis dan Fahri, penggagas
partai ini adalah mayoritas mantan petinggi PKS, seperti Mahfudz Siddiq, Rofi
Munawar, dan Achmad Rilyadi.
Di sisi lain, banyak spekulasi yang
muncul, berdirinya partai Gelora adalah untuk menghadang PKS dalam kontestasi
politik di Indonesia. Pasalnya, dua tokoh penggagas partai tersebut, merupakan
mantan petinggi
PKS dan bisa dibilang mereka adalah barisan sakit hati terhadap PKS. Meski
banyak dihuni mantan kader PKS, partai Gelora menyebut dirinya berbeda dengan
PKS.
Sekretaris Jendral Partai Gelora,
Mahfudz Siddiq menyebut
terdapat perbedaan antara partai Gelora dan PKS, Gelora lebih mengindonesia
dari PKS. ia menyebut partai Gelora mengedepankan pancasila bukan Islam.
Perbedaan yang mendasari kedua
partai tersebut adalah ideologi yang diusung oleh masing-masing partai, PKS
lebih condong berasaskan Islam sedangkan Gelora lebih kearah nasionalis.
Partai yang dilahirkan dari ormas
Garbi ini, menggabungkan
konsep ideologi nasionalis relijius, selanjutnya dijadikan akronim INDEKS, yang
merupakan singkatan dari Islam, Nasionalis, Demokratis, dan Kesejahteraan.
Hal tersebut menegaskan bahwa
partai Gelora tidak ingin terjebak dalam isu perdebatan mengenai Islam dan
nasionalisme, selain itu partai Gelora ingin terbuka kepada seluruh komponen
bangsa dalam hal kaderisasi.
Jack C. Plano menyebut istilah
kaderisasi sebagai pemilihan orang untuk mengisi posisi formal dan legal. Di
kancah politik, proses kaderisasi digunakan untuk menyiapkan semua orang yang
ingin bergabung menjadi anggota partai.
Berdasarkan pernyataan tersebut,
dalam menjaring kader partai, Gelora menerapkan prinsip keterbukaan terhadap
seluruh komponen bangsa, dengan kata lain tidak membatasi hanya dari satu
golongan saja.Umumnya kaderisasi yang dilakukan oleh partai politik adalah untuk
mempersiapkan pemimpin yang matang.
Hal tersebut diungkapkan oleh
Partanto dan Al Barry dalam kamus ilmiah populer yang menyebut
kaderisasi dilakukan dalam rangka mendidik seseorang untuk melanjutkan tongkat
estafet dari suatu partai atau organisasi.
Dengan ditanamkannya prinsip
keterbukaan dalam hal kaderisasi, mampukah partai gelora menghadapi tantangan sistem
demokrasi di Indonesia dengan persaingan yang ketat.
Inklusif-Moderat
Partai Politik
Hadirnya
partai Gelora merupakan konsekuensi dalam demokrasi yang disepakati dan dijalankan
di Indonesia. Hal tersebut Justru membuat partai-partai baru dapat menghadirkan
warna dalam semarak perpolitikan di Indonesia.
Partai
Gelora bukan merupakan hal baru dalam proses pembelahan partai politik (Political Cleveage) di Indonesia,
sebelumnya terdapat partai Nasdem dan Hanura yang merupakan pembelahan dari
partai Golkar.
Lahirnya
partai Gelora sebagai pembelahan dari PKS, sangat penting untuk menguraikan bagaimana
prinsip Islam nasionalis yang ditunjukan oleh partai Gelora dapat berjalan.
Dalam
konteks ini, Inclusion-moderation thesis atau
disebut
tesis inklusif-moderat sering digunakan untuk menjelaskannya.
Inklusif-moderat
merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh kelompok radikal yang berada di
luar sistem yang kemudian mengurangi intensitas radikal dan mengikuti sistem
melalui cara-cara yang demokratis.
Dalam
partai politik, semula berada di luar sistem (Partai Islam), kemudian mulai
bergabung dalam sistem yang berkuasa dan kemudian memanfaatkan peluang untuk
merebut kekuasaan. Namun, terkadang ketika telah mendapatkan kekuasaan, tidak
dipungkiri mereka akan kembali kepada idealisme awalnya.
Dalam
sejarah Turki, keputusan generasi muda dari Partai Islam milli gorus yang keluar dan
kemudian membentuk
Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet
ve Kalkinma Partisi atau AKP) menimbulkan tanda tanya besar di kalangan
masyarakat Turki. Timbulnya perpecahan di partai menjadi suatu fenomena yang
belum pernah terjadi.
Selain
itu, tokoh AKP yang terkenal, yaitu Recep Tayyip Erdogan dalam praktiknya menggunakan
banyak menggunakan teori inklusif-moderat untuk meraih kekuasaan, yang semula
menyuarakan nilai-nilai universal, dan pro terhadap sistem barat. Hal tersebut
sebenarnya salah satu strategi Turki untuk masuk dalam anggota Uni Eropa.
Dalam
konteks ini, memperlihatkan pola yang hampir sama dengan kondisi partai Gelora,
yang merupakan hasil pembelahan PKS dan kemudian menganggap dalam praktiknya,
partai tersebut menggunakan nilai-nilai yang lebih moderat, boleh jadi memang
sedang ada upaya dari partai Gelora untuk merebut tonggak kekuasaan atau
mungkin hanya untuk menghentikan laju PKS pada kontestasi politik yang akan
datang.
Sementara
itu, munculnya Gelora sebagai partai calon peserta dalam kontestasi politik
yang akan datang, menimbulkan spekulasi apakah sebagai partai politik yang menerapkan
inklusi-moderat, dapat bersaing dalam gelaran pemilu di Indonesia serta mampu
melepaskan bayang-bayang PKS terhadapnya.
Partai Gelora adalah PKS-Nasionalis
Meskipun
bisa dikatakan bahwa partai Gelora merupakan sempalan PKS. Namun, terdapat
berbagai usaha dalam diri partai tersebut untuk dapat mengubah persepsi publik
tehadapnya.
Menurut,
Ridho Imawan Hanafi dalam The Emergence
and Challenges of New Political Parties in 2019 Election, menyebut
partai baru yang terbentuk karena adanya pembelahan partai dan menjadi alat
tokoh politik untuk bisa meraih kekuasaan dan menjadi elite.
Sejatinya,
hadirnya partai Gelora merupakan dampak dari adanya perpecahan internal di kubu
PKS, perpecahan ini pastinya di tenggarai karena banyaknya pihak yang ingin
mengatur dan berkuasa di PKS.
Kendati
Anis dan Fahri yang ingin berkuasa tentu tidak akan tercapai apabila masuk ke
dalam PKS, maka pembentukan partai Gelora dianggap solusi yang tepat, dengan
lebih menggeser asas partai kearah partai Islam-nasionalis.
Pergeseran
politik partai Gelora tampak terlihat dari sistem kaderisasi
dan struktur organisasi yang ditunjukkannya, sistem tersebut dibangun atas
dasar rumusan model manusia Indonesia yang relijius, berpengetahuan dan
sejahtera. Hal tersebut yang membuat partai Gelora berprinsip pluralisme.
Kemudian,
dalam struktur organisasi partai Gelora mengubah istilah Dewan Syura yang biasa
disebut dalam PKS, mengubahnya dengan sebutan Majelis Permusyawaratan Nasional.
Dengan
demikian, pergeseran yang ditunjukan partai tersebut kearah yang lebih moderat
dan menekan nilai-nilai kebangsaan, akankah mampu bersaing dalam sistem
demokrasi Indonesia.
Dalam
konteks demokrasi di Indonesia, nampak sudah menjadi suatu perkara yang berat,
apabila partai baru akan melenggang ke Senayan.
Pasalnya,
partai-partai yang memiliki kekuatan modal besar saja, sangat sulit untuk dapat
merebut hati masyarakat dan merebut kursi kepemimpinan, seperti Perindo yang
secara modal finansial, partai tersebut memiliki dana kampanye yang besar yaitu
hampir mencapai 90 miliar.
Selain
itu, partai Berkarya juga mengalami hambatan yang besar dalam mengikuti
kontestasi pemilu 2019. Walaupun secara modal ketokohan, partai tersebut sangat
besar yaitu bermodalkan ketokohan Soeharto.
Dengan
begitu, minimnya modal politik yang dimiliki partai Gelora nampaknya belum mampu
untuk lolos dalam gelaran pemilu yang akan datang.
Partai
gelora secara modal ketokohan Anis Matta pun dirasa belum cukup untuk
menandingi elite politik partai lain dan kemudian secara pendanaan partai pun
belum jelas adanya dan dari mana asal usulnya.
Di
sisi lain, partai Gelora belum memiliki warna khas yang benar-benar akan
menjadi pembeda dengan partai-partai lainnya yang sudah lebih dulu ada, hal
tersebut menjadikan partai Gelora sangat sulit untuk mengambil postioning dalam memarketingnya.
Pemilu
2024 merupakan salah satu momentum bagi Gelora untuk membuktikan bahwa Gelora
mampu bersaing di luar bayang-bayang PKS.